Memang film tersebut hanyalah fiksi. Suatu imajinasi saja. Hanya mimpi! Tapi bahkan para tokoh hebat yang mengubah dunia tidak pernah meragukan kekuatan mimpi.
Walt Disney pernah berkata, “Jika kita bisa memimpikan sesuatu, maka kita bisa meraihnya.” Sedangkan Albert Einstein berkata, “Imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.” Ini diperkuat oleh ucapannya sendiri, yang berbunyi:
“Tanda kejeniusan sesungguhnya bukanlah pengetahuan, melainkan imajinasi.”
Mengapa begitu? Karena untuk menelaah suatu pengetahuan dibutuhkan eksplorasi alam khayal atau imajinasi dulu. Newton tidak akan pernah menemukan teori gravitasi jika dia tidak pernah mengeksplorasi alam khayalnya ketika melihat apel jatuh. Al-Khawarizmi tidak akan pernah menemukan teori Aljabar jika tidak berani membuka pintu imajinasi untuk menguji teori. Dan NASA tidak akan pernah terbang ke angkasa jika tidak berani bermimpi terbang ke sana.
Sederhananya, untuk bisa membuat suatu terobosan, kita perlu bermimpi dulu.
kereta MRT. Gambar : https://jakartamrt.co.id/mrt-jakarta/ |
MIMPI SANG PEMIMPI
Mimpi-mimpi itu pasti menghasilkan cibiran dan ejekan pada
awalnya, seakan ia lahir dari pikiran ngelantur manusia-manusia kurang kerjaan
saja. Akuilah hal ini terjadi pula ketika kita berbincang tentang sistem
transportasi modern dan terintegrasi di Jakarta. Kondisi Metropolitan
yang carut marut membuat kemunculan impian semacam itu seperti dagelan klasik
yang tak lucu.
Namun lihatlah, wajah Jakarta mulai berubah.
Terowongan-terowongan dibangun di sejumlah ruas untuk dijadikan jalan bagi Mass
Rapid Transit (MRT) yang rencananya akan
rampung beberapa tahun mendatang.
Selama ini kita mungkin hanya menganggapnya “mitos”. Dan mungkin
akan tetap menjadi mitos jika mimpi-mimpi tidak ditindaklanjuti melalui
tindakan riil untuk bekerja bersama #UbahJakarta. Tindakan riil pertama terjadi pada
1985, namun denyutnya sangat terasa sejak Perda Prov. DKI Jakarta Nomor 3 Tahun
2008 terbit. Perda ini menandai lahirnya PT Mass Rapid Transit Jakarta (PT MRT
Jakarta) selaku BUMD Provinsi Jakarta selaku pihak yang paling bertanggung
jawab dalam merealisasikan (salah satu) impian transportasi modern dan
terintegrasi di Jakarta, yakni MRT Jakarta.
Ada banyak manfaat bisa diambil jika transportasi modern dan
terintegrasi ini terealisasi di Jakarta. Kemacetan yang terurai, itu pasti. Di
samping itu juga Jakarta akan sukses menghemat energy yang selama ini terbuang
percuma di kemacetan. Produktivitas kerja pun akan meningkat karena sebagian
besar waktu warga Jakarta tidak lagi dihabiskan di jalanan. Bencana banjir pun cepat atau lambat akan mampu teratasi karena proyek penting ini dapat diintegrasikan pula dengan pembangunan sistem drainase kota yang lebih baik.
Karenanya mimpi semacam ini perlu ditindaklanjuti dengan perencanaan matang, sebagaimana terlihat melalui video bawah ini :
Karenanya mimpi semacam ini perlu ditindaklanjuti dengan perencanaan matang, sebagaimana terlihat melalui video bawah ini :
Perencanaan yang matang juga menentukan seberapa padu hal tersebut terhadap latar belakang dari upaya realisasi proyek ini. Hal dimaksud tertuang dalam konsideran Perda Nomor 3 Tahun 2008, bahwa pembangunan
perkeretaapian perkotaan MRT harus sesuai dengan kebijakan Pola Transportasi Makro (PTM).
POLA TRANSPORTASI MAKRO (PTM)
Kebijakan PTM di DKI Jakarta berfokus pada penataan system
transportasi dan penanganan kemacetan. Hal ini diselenggarakan demi mengurangi
pemborosan energi, polusi, biaya
operasional kendaraan, dan lain-lain. Pola Transportasi ini harus padu satu sama lain, sehingga tiap-tiap program tidak saling tumpang tindih dan bertentangan.
Ada tiga strategi PTM
di DKI Jakarta, yakni :
[pertama] Peningkatan Kapasitas Jaringan, yang meliputi
upaya pelebaran jalan, pengembangan jaringan jalan, dan pembuatan trotoar.
[Kedua] Pembatasan lalu lintas, yang meliputi upaya
pembatasan penggunaan kendaraan bermotor, road pricing (ERP), pengendalian
parkir, dan fasilitas park and ride.
Sejumlah upaya dari kedua strategi ini telah akrab di
telinga kita dalam beberapa tahun belakangan. Namun tidak akan mencapai hasil
maksimal tanpa terwujudnya strategi ketiga, yakni Pengembangan Angkutan Umum
Massal, yang diwujudkan melalui penyediaan MRT, LRT dan BRT (busway). Melalui
strategi ini masyarakat diberi berbagai macam pilihan moda transportasi yang
nyaman dan terintegrasi, sehingga dengan sendirinya dapat meninggalkan
kendaraan-kendaraan pribadinya yang menjadi penyumbang terbesar kemacetan
Jakarta, untuk beralih menggunakan transportasi umum.
Kunjungan BNPT dan Densus 88. Hak Cipta : MRT Jakarta. Sumber : https://jakartamrt.co.id/galeri/kunjungan-bnpt-dan-densus-88/#!jig[1]/ML/6961 |
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ALA EDWARD III
Pakar kebijakan publik Edward III, menyebutkan adanya empat
faktor/variabel yang menentukan keberhasilan implementasi suatu kebijakan,
yakni, komunikasi, sumber daya, sikap/disposisi, dan struktur birokrasi. Keempat faktor
tersebut harus dilaksanakan secara simultan karena satu sama lain memiliki
hubungan yang erat.
Sejauh ini, pengadaan MRT menunjukkan progress yang baik
dalam hal sumber daya. Kiprah PT MRT Jakarta sejauh ini berbanding lurus dengan
visi-misi pengadaan transportasi MRT sebagai bagian dari prioritas nasional.
Visi MRT Jakarta dimaksud berbunyi :
Visi MRT Jakarta dimaksud berbunyi :
Menjadi penyedia jasa transportasi publik terdepan yang berkomitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan mobilitas, pengurangan kemacetan, dan pengembangan sistem transit perkotaan.
Sedangkan misi MRT Jakarta berbunyi :
Mencapai keunggulan yang berkesinambungan di semua elemen kinerja, melalui:
- Pengembangan dan pengoperasian jaringan transportasi publik yang aman, terpercaya, dan nyaman;
- Menghidupkan kembali lingkungan perkotaan melalui pengembangan transit perkotaan ternama; dan,
- Membangun reputasi sebagai perusahaan pilihan dengan melibatkan, menginspirasi, dan memotivasi tenaga kerja kami.
Dalam hal struktur birokrasi, keberadaan MRT Jakarta haruslah bersatu padu dengan moda transportasi yang menjadi rancangan besar pola Transportasi Makro, yakni LRT, TransJakarta, feeder busway, dan lainnya. Ke-satu-padu-an seluruh moda transportasi tersebut amat vital dalam menyokong geliat ibukota yang sangat masif namun terlihat ringkih -- mudah kacau oleh sedikit saja kesalahan tata kelola.
Skema Implementasi Kebijakan Edward III |
Diperlukan pengelolaan komunikasi yang padu dan terarah sehingga hambatan yang mungkin terjadi akibat sikap/disposisi dapat teratasi demi pemanfaatan sumber daya yang lebih baik, utamanya demi terwujudnya implementasi kebijakan yang mencapai target/sasaran.
KOGNITIF-AFEKTIF-PSIKOMOTORIK
Dalam hal komunikasi, perlu dirancang berbagai pendekatan agar respons bersifat
dukungan semakin besar, sementara respons bersifat penolakan
semakin terkikis. Penyebaran informasi bersifat
kognitif secara terus menerus dapat
menjembatani ini. Para pelaku angkutan umum yang merasa terancam oleh
keberadaan MRT, misalnya, perlu dirangkul untuk dicarikan solusi yang lebih
baik. Sementara masyarakat awam perlu
diyakinkan melalui penyediaan fasilitas dan pelayanan prima agar tergerak
menggunakan transportasi publik MRT.
Bila perlu, libatkan pula masyarakat dalam
berbagai bentuk pengambilan kebijakan yang bersifat publikasi, misalnya
voting dalam hal penentuan desain grafis di badan MRT, dan semacamnya. Dengan
cara itu, aspek-aspek pengetahuan afektif dapat tumbuh, lalu mewujud ke dalam aspek pengetahuan psikomotorik. Jika kondisi ini tercapai, masyarakat akan tergerak untuk merasa memiliki MRT sebagai bagian dari dirinya, lalu bersama-sama mengambil tanggung jawab dalam memajukan Jakarta.
Dengan begitu, PT MRT Jakarta dan para pemimpi negeri ini bukan lagi satu-satunya pihak yang akan bekerja keras menjadikan Jakarta lebih baik, tetapi juga masyarakat Jakarta itu sendiri yang akan bekerja bersama #UbahJakarta, sepenuh hati dan sepenuh jiwa.
Dengan begitu, PT MRT Jakarta dan para pemimpi negeri ini bukan lagi satu-satunya pihak yang akan bekerja keras menjadikan Jakarta lebih baik, tetapi juga masyarakat Jakarta itu sendiri yang akan bekerja bersama #UbahJakarta, sepenuh hati dan sepenuh jiwa.
Aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik penting dalam penanaman informasi agar masyarakat menggemari moda transportasi publik |